Sekelompok wisatawan mengunjungi peternakan domba. Pada saat mengunjungi peternakan itu, para wisatawan diberikan kesempatan untuk memanggil para domba itu dengan cara masing-masing. Ada yang memanggil dengan suara: mbeee,, mbeee,, ada yang memanggil; kwikkk,,, kwikkk,,, atau wokk,, wokk,, semua wisatawan itu tidak ada yang berhasil satupun. Akhirnya sang gembala mengeluarkan suara: mbee,, mbee,, mbee,, dan dengan cepat domba-domba muncul dari balik pohonpohon dan semak belukar bahkan ada yang agak jauh jaraknya datang domba itu. Gembala dengan mudah bisa memanggil dan domba-domba datang. Setelah dombadomba berkumpul, sang gembala tinggal mengarahkan domba-domba kekandang.

Bapak ibu saudara saudari, kita seringkali begitu bangga berkata bahwa kita adalah domba-domba Tuhan Yesus dan Tuhan Yesus gembala kita. Maka refleksi kita adalah; apakah kita mengenal baik sang gembala kita? Kalau mengenal dengan baik maka kita akan sangat mengenal suara sang gembala kita dan ketika suara itu memanggil, mengarahkan dan menuntun kita, kita pasti mengikuti-Nya dan menuruti perintah atau arahan Sang Gembala. Hal ini kita lakukan karena kita yakin bahwa Gembala kita melindungi, mengasihi, menyelamatkan karena Gembala kita baik. Gembala kita Tuhan Yesus itu sungguh sangat baik bukan hanya menuntun, melindungi dari para pemangsa namun menyelamatkan dengan hidup dan nyawa-Nya. Oleh karena itu apakah kita tega menjadi domba yang nakal bagi gembala yang baik. Sola-gracia.

- Pdt. Ima F. Simamora -