Penginjil Lukas mengemukakan bahwa Yohanes Pembaptis dengan lantang memberitakan pertobatan sebelum Tuhan datang. Yohanes memanggil semua orang untuk bertobat dan menyerahkan diri mereka kepada belas kasih Allah dan membiarkan diri mereka dibaptis sebagai tanda pertobatan. Namun Yohanes melihat kemunafikan orang banyak yang datang untuk bertobat. Dalam situasi kongkret pada waktu itu, mereka memberi diri dibaptis bukan untuk mendapatkan pengampunan dosa. Itu sebabnya Yohanes menyebut mereka ular beludak. Ular beludak melambangkan kekejaman dan kekerasan hati orang banyak. Mereka tidak akan dapat menghindar dari hukuman Allah apabila tidak sungguh-sungguh bertobat (ay. 7).

Bertobat menurut Yohanes Pembaptis adalah berubah menjadi pribadi yang sungguh-sungguh menghormati Tuhan Allah. Pertobatan berarti berbalik dari perilaku tidak takut Allah, dan memusuhi sesama menjadi hormat dan takut kepada Tuhan Allah. Artinya orang diajak memutar haluan hidupnya yang hanya memenuhi segala keinginannya sendiri, ke arah hidup yang mengarah pada perjalanan pembaharuan, yaitu ke Kerajaan Allah. Baptisan Yohanes merupakan tindakan ritual yang mengungkapkan kesediaan setiap orang Yahudi untuk bergabung dengan gerakan pembaharuan tersebut. Dalam pengertian ‘rohani’ perubahan hidup atau pertobatan sebagaimana orang yang mencuri tidak lagi mencuri, yang malas beribadah kini tekun beribadah, yang menahan rejeki untuk sesama kini suka berbagi, dan lain sebagainya.

Selain itu Lukas juga mengungkapkan integritas Yohanes Pembaptis yang memberikan teladan kongkret, yaitu dengan jujur dan terbuka mengaku bahwa dirinya bukan Mesias, walau terbuka kesempatan untuk itu. Bertobat, kembali ke jalan Tuhan, berperilaku sepadan dengan pertobatan, dan keteladanan, semua itu adalah karya yang dihasilkan dari hati dan jiwa yang takut dan menghormati Tuhan Allah. Inilah spiritualitas Pertobatan sejati.

Orang yang telah diselamatkan Tuhan harusnya punya perasaan tanggap dan peka terhadap penderitaan sesama. Simpati dan empati disalurkan secara nyata dalam perbuatan dan ucapan yang mendatangkan kegembiraan dalam diri sesama sebagai buah dari pertobatannya yang nyata. Memanfaatkan tenaga, pikiran, dana dan waktu, untuk menyatakan kasih kepada Tuhan, lewat karya nyata bagi sesama. Itu semua bukan kegiatan dan aktivitas yang kosong, atau sekadar seperti pameran dari orang berada ke pada mereka yang tidak berada, tapi merupakan pancaran dari spiritualitas pertobatan sebagai wujud semangat orang beriman yang cinta Tuhan.

 

Pdt. Adi Cahyono