Seorang anak yang hobbinya melukis suatu saat terpikir sebuah ide untuk mengetahui respon dari teman-teman disekolah. Lalu ia menempelkan lukisannya di mading sekolah dengan catatan silakan memeberikan menilaian dari apa yang anda lihat. Ternyata penilaian teman-teman disekolahnya menilai lukisannya jelek. Iapun memperbaiki lukisan tersebut dan menuliskan hal yang sama dan penilaian tetap jelek. Sampai akhirnya dia merasa penolakan terhadap karya lukisan dan menyendiri. Sampai akhirnya guru lukisnya memberi saran untuk memberikan catatan: Jika anda merasa lukisan ini menarik berikan respon dan masukannya ya!. Hasilnya teman-temannya memberikan respon yang menarik.

Pengalaman penolakan tidak dapat kita hindari dalam dunia nyata. Kita bisa ditolak karena hasil karya, kondisi tubuh, ekonomi bahkan sekarang ini kondisi kesehatan dimana wabah covid 19 merebak. Begitu menyakitkan dan menyedihkan pengalaman ditolak, rasanya hidup mejadi sukar sekali bahkan membawa kita pada kepedihan yang mendalam dan merasa ngak adil hidup ini. Orang lain diterima, orang lain dipuji, orang lain disayang kok saya ditolak, apa salah saya. Terkadang dalam penolakan tersebut kita merasa sendiri, ditinggalkan, merasa jelek dan hancur.

Seperti anak yang melukis itu. Ada kalanya kita bisa belajar melihat hal yang baik dari apa yang dihasilkan atau kondisi kita. Penolakan itu menjadi bagian yang begitu buat kita perih.. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus juga ditolak.

Tuhan Yesus tahu rasa sakit penolakan itu,, tahu benar bahkan sampai dikayu salibkan. Tuhan Yesus tahu dan merasakan setiap tetesan air mata hasil dari kepedihan penolakan itu. Saudara-saudari anda ngak sendiri. Terlebih dimasa sekarang penolakan bisa membawa kita pada kehilangan orang yang terkasih, sedihh banget ya,,duhh. Tapi ingatlah kita tak sendiri ada Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus buatlah aku merasakan
Tuhan ada bersamaku disini. Amin

 

(Pdt. Ima F. Simamora)