Kebaktian minggu hari ini di GKI Delima merupakan kebaktian syukur atas ulang tahun ke-34 Gereja Kristen Indonesia (GKI). Kita patut bersyukur dan bangga bahwa penyatuan GKI yang sudah berlangsung selama 34 tahun ini telah dan akan terus diupayakan menuju arah yang lebih baik. Berjalan berderap bersama sebagai gereja selalu berhadapan dengan tantangan klasik yaitu perbedaaan. Dibutuhkan kesadaran dan kesediaan untuk terus mengikatkan diri pada relasi, visi-misi yang lebih besar agar perjalanan sebagai gereja Tuhan ini semakin relevan di segala situasi dan keadaan kehidupan.
Melalui pembacaan firman Tuhan dan tema ibadah hari ini kita diajak untuk mengimani dan menghayati karya Tuhan dalam perjalanan kita bersama sebagai GKI sepanjang 34 tahun. Sungguh alangkah baik dan indahnya, jika kita semua tetap berjalan bersama dengan rukun sebagai gereja yang membawa misi Kerajaan Allah di tengah dunia ini. Untuk itu dibutuhkan kerendahan hati di hadapan Allah dan sikap etis untuk menghadirkan pelayanan di tengah kehidupan. Dalam pembacaan Injil hari ini kita bisa mendapatkan pengajaran dari Yesus tentang iman dan kerendahan hati.
Dalam perumpamaan pertama, Yesus memperingatkan bahwa penghargaan bukan merupakan sesuatu yang seharusnya menjadi ambisi, tetapi merupakan anugerah. Karena itu jangan pernah merasa layak untuk mendapatkan tempat kehormatan, atau memburu penghargaan demi gengsi, harga diri atau untuk menaikkan status sosial (ay.8). Bisa saja itu jadi berbalik mempermalukan diri kita sendiri, terlebih bila kita berhadapan dengan orang yang memang benar-benar pantas mendapatkannya (ay.9). Kalau memang layak untuk memperoleh penghargaan, kita pasti akan mendapatkannya maka perlu ada sikap rendah hati (ay.10). Rendah hati bukan karena kurang penghargaan terhadap diri sendiri, tetapi justru karena tahu bagaimana harus menempatkan diri.
Lalu yang kedua, dari peran sebagai tamu, Yesus menggambarkan kerendah-hatian, saat kita sendiri yang menjadi tuan rumah dalam suatu perjamuan. Menurut Yesus bahwa yang perlu kita undang bukanlah orang kaya dan terkenal atau kerabat kita sendiri (ay.12). Tetapi undanglah orang-orang yang tidak bisa membalas pemberian kita, mereka yang layak menerima belas kasih kita (ay.13-14). Untuk kerendahhatian dan keramahtamahan semacam itu, Tuhan menjanjikan berkat (ay.14). Jadi, daripada berambisi meraih prestise karena ingin dihormati banyak orang, lebih baik kita memikirkan siapakah yang seharusnya kita layani. Karena dalam Kerajaan Allah, melayani orang lain lebih dihargai daripada kepemilikan status atau prestise.
Dalam peringatan dan perayaan HUT GKI kali ini semestinya bukan dirayakan untuk mengagungkan diri. Perayaan sebagai wujud ungkapan syukur atas berkat dan pemeliharaan serta karya Tuhan yang berlebihan, bisa membuat kita menjadi jumawa. Apalagi kalau perbuatan pelayanan dan ibadah yang kita lakukan hanya dibuat-buat dan bukan dari hati yang tulus mengasihi Tuhan, serta tidak diimbangi dengan kepedulian kepada sesama yang membutuhkan. HUT GKI yang ke-34 ini menjadi momentum untuk mengukuhan komitmen dan tekad untuk berjalan bersama menjadi gereja yang menghadirkan damai sejahtera Allah bagi dunia. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam hidup bersama, aktif mendorong terciptanya lapangan pekerjaan dan pemerataan pendidikan yang bermutu bisa menjadi concern gereja untuk membantu memulihkan bangsa Indonesia setelah dilanda badai pandemic virus Covid 19 yang belum juga sirna. Selamat ulang tahun untuk GKI, Tuhan kita senantiasa memberkati.
Pdt. Adi Cahyono