Setiap hari kita bertemu banyak orang; di rumah kita bertemu keluarga; dari bangun tidur kita bertemu suami, anak-anak, bahkan bila tidak bekerja kita bisa bertemu sepanjang hari, bila bekerja maka sore atau malam kita akan bertemu dengan anggota keluarga lagi. Apakah pertemuan itu bermakna?
Ketika keluar rumah maka kita bertemu tukang sayur, tetangga, teman sekolah, teman kos, teman kantor. Kita bisa saling menyapa. Apakah pertemuan itu bermakna? Pertemuan yang terjadi dalam hidup kita sangat banyak, namun apakah pertemuan itu bermakna? Belum tentu. Pertemuan yang terjadi bisa menjadi pertemuan yang tidak bermakna atau hanya biasa saja.
Pertemuan yang bermakna biasanya terjadi karena ada kejadian khusus, memberi pengalaman khusus, misalnya: saat kecelakaan lalu kita ditolong, bertemu dengan orang yang sangat kita kagumi, bertemu dengan orang saat kita rapuh, sedih lalu didoakan sehingga pertemuan tersebut memiliki makna dan kesan yang bermakna.
Perjumpaan juga terjadi dalam kehidupan murid-murid dengan Yesus, perjumpaan setelah kehilangan dan kematian. Sehingga perjumpaan yang dialami murid-murid menjadi perjumpaan yang sangat tidak disangka-sangka dimana murid-murid dalam kondisi yang hilang harapan dan ketakutan. Hal ini terjadi karena kejadian salib dan kematian Yesus Kristus.
Sekalipun para murid mendengar ada murid-murid Yesus lainnya yang sudah berjumpa dengan Yesus namun hal itu tidak dapat membuat para murid khususnya Tomas-Didimus langsung percaya dan bersukacita. Inilah gambaran kerapuhan manusia saat mengalami keterhilangan dan kejadian yang sangat berat. Tidak mudah untuk berubah dan mengalihkan kepenatannya.
Namun ada yang hebat dari kisah ini; Tuhan Yesus tahu cara jitu atau tepat meyakinkan murid-murid-Nya. Sapaan Yesus kepada murid-murid: ”Damai sejahtera bagi kamu.” beberapa kali dikatakan Yesus Kristus untuk mengingatkan kembali akan sapaan yang khas dari Yesus. Begitu juga saat berjumpa dengan Tomas dan meyakinkan Tomas dengan memberikan kesempatan untuk Tomas mencucukkan jari tangannya ke tangan Yesus. Semua ini menjadi cara Yesus Kristus yang berusaha untuk terus meyakinkan muridmurid. Setelah para murid yakin maka Yesus Kristus mempersiapkan para murid untuk menjadi utusan menyebarkan Injil dan Firman Allah.
Bagaimana dengan kita? Masih ingatkah kita akan perjumpaan kita dengan Yesus Kristus, saat kita sedih, rapuh, suka dan duka. Saat Tuhan Yesus berusaha untuk meyakinkan kita bahwa sungguh Tuhan Yesus itu sungguh Hidup. Disanalah setiap perjumpaan menjadi sangat berarti. Amin Solagracia.
- Pdt. Ima F. Simamora -