Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?"

Ada sebuah kisah kuno dari Tiongkok: Ada seorang petani tua yang memiliki seekor kuda yang digunakan untuk mengolah ladangnya. Suatu hari kuda tersebut melarikan diri di bukit-bukit dan ketika para tetangganya mendengar berita itu, mereka bersimpati kepada orang tua atas nasib buruknya. Namun jawab si petani itu, "Nasib buruk? Nasib baik? Siapa yang tahu?" Seminggu kemudian, kuda itu kembali dengan membawa kawanan kuda liar dari pegunungan dan kali ini para tetangga mengucapkan selamat kepada petani tua akan keberuntungannya. "Nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?" kata si petani tua itu. Kemudian, ketika anak si petani tua itu berusaha menjinakkan salah satu kuda liar, ia terjatuh dari punggung kuda itu dan kakinya patah. Semua tetangganya kembali setuju bahwa ini adalah sebuah keberuntungan yang sangat buruk. Petani itu menjawab, "Nasib buruk? Nasib baik? Siapa yang tahu?"

Beberapa minggu kemudian, tentara dari pemerintah masuk ke desa-desa dan memaksa setiap pemuda yang berbadan sehat untuk pergi berperang dalam perang yang berdarah. Ketika mereka melihat bahwa anak petani tua ini mengalami patah kaki, mereka tidak memilihnya. Beberapa minggu setelah peperangan, ada berita bahwa banyak anak-anak dari tetangga si petani tua itu berguguran di medan perang. Semua penduduk desa itu bersedih hati dan berkata kepada si petani tua itu sangat beruntung bahwa anaknya tidak ikut dalam perang. Petani tua itu kembali menjawab, "Nasib baik? Nasib buruk? Siapa yang tahu?"

Hidup manusia siapa yang tahu, kita bisa dalam kondisi baik-baik dan bersukacita namun bisa juga dalam kondisi buruk dan dalam malapetaka. Hidup seperti up and down seperti roda, ketika kita sedang diatas kita merasa Bahagia dan bersukacita sedangkan jika sedang dibawah kita merasa kecewa dan putus asa. Hubungan dengan Tuhan juga bisa seperti itu; ketika sedang baik-baik dan senang kita merasa Tuhan Yesus memberkati namun sebaliknya ketika sedang tertimpa masalah dan musibah kita merasa Tuhan Yesus jauh dan tidak adil. Keputusan dalam memandang Tuhan Yesus dan merasakan akan kehadiran Tuhan Yesus tergantung pada kedekatan kita dan keputusan kita sendiri. Dimana seharusnya tidak bergantung pada kondisi dan apa yang kita alami. Namun bergantung pada apa yang ada dalam hati kita; bila hati kita banyak kepahitan maka kita akan sensitif pada kepahitan, bila didalam hati kita penuh dengan sukacita maka kita akan sensitif akan sukacita bahkan kita tetap bisa merasakan sukacita sekalipun situasi tidak baik. Oleh karena itu pengenalan akan diri sendiri dan apa yang kita alami menjadi salah satu kunci dalam sukacita selain yang utama pengenalan akan Tuhan kita yaitu Tuhan Yesus Kristus. Menurut kita siapa Yesus?

Pengenalan akan Tuhan Yesus membawa kita kepada cinta kasihnya yang merengkuh kelara dan kerapuhan kita manusia. Tuhan Yesus datang kedunia untuk menjadi penyelamatan. Tuhan Yesus menjadi Sang Imanuel. Ingat dan percayalah bahwa karya Tuhan Yesus tidak bergantung pada situasi, kondisi dunia bahkan kondisi diri kita. Tuhan Yesus menjadi Sang Penyelamat yang konsisten berkarya bagi dunia. Hal ini menjadi kekuatan dan harapan bagi kita dalam menjalani kehidupan sembari menanti akan kedatangan Tuhan Yesus pada ke-dua kalinya, kekuatan dan harapan bahwa sukacita dalam Tuhan Yesus tidak akan berubah. Oleh karenanya kita harus tetap semangat untuk menjaga hati dan harapan kita didalam hubungan yang erat dan hangat dengan Tuhan Yesus Kristus supaya sukacita akan dengan peka kita rasakan dan dengan gembira kita bagikan bagi kehidupan. SolaGracia


- Pdt. Ima F. Simamora -