Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata komitmen berarti: perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak. Sehingga kata komitmen bermakna keterikatan melakukan sesuatu terhadap nilai yang diyakini dan dihidupi dalam kehidupan keseharian. Dalam hubungan dengan kehidupan kekeristenan komitmen berarti keputusan untuk bersedia terikat dalam menjalankan nilai-nilai kebenaran Firman Allah dalam kehidupan keseharian.

Didalam pembacaan Firman Tuhan ( Lukas 14:25- 35) digambarkan bagaimana banyak orang yang berduyunduyun mengikuti Yesus. Saat itu memang Tuhan Yesus sudah banyak dikenal dengan berbagai macam mujizat yang dilakukan dan pengajaran-pengajaran-Nya tidak heran banyak orang yang begitu mengagumi Tuhah Yesus. Namun apakah orang-orang yang mengikuti Tuhan Yesus ini bersedia menjadi murid Tuhan Yesus? Menjadi murid Tuhan Yesus ternyata memiliki syarat: dikatakan bahwa untuk menjadi murid Tuhan Yesus: “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya , ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku”. (Lukas 14:26-27).

Syarat ini memang tidak bisa diterjemahkan secara langsung bahwa kita harus membenci bapak ibu kita dll. Namun dibalik Firman Tuhan ini mau menekankan KOMITMEN TOTALITAS menjadi murid Tuhan Yesus dimana kita mendahului firman Allah dan kehendak Allah dalam hidup kita dibandingkan apapun dalam hidup ini juga termasuk relasi kita dengan keluarga dan kerabat bahkan harus bersedia memikul salibnya atau bersedia menderita.

Dalam Bahasa Yunani memikul salib memakai kata “bastazei-bastazo” berarti mengangkat dengan tangannya sendiri. Menjadi murid Kristus bukan sekedar dibenarkan melalui ritual keagamaan melainkan komitmen dalam kehidupan kita. Komitmen dimana kita awali dari Sakramen Babtisan, sidi, janji pernikahan dan janji-janji pribadi kita masing-masing. Janji yang kita haturkan kepada Tuhan Allah adalah janji terikat untuk kita lakukan dalam keseharian kita entah dalam kondisi baik ataupun tidak baik, untung atau merugi, bahkan melebihi relasi kita dengan siapapun. Hanya Kristus yang utama dan diutamakan dalam hidup kita maka hidup kita tidak akan sia-sia. Amin. Sola Gracia

  

Pdt. Ima F. Simamora