Pada awal tahun 2019 ini, terjadi sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan di Palembang. Pasangan pengantin Anggi dan Fadlan ditipu oleh Wedding organizer (WO) di  esta pernikahannya. Di hari berbahagia itu, katering yang dipesan dan sudah dibayar sebanyak 1000 porsi tak kunjung tiba. Alhasil seluruh tamu yang hadir tidak dijamu sama sekali. Perasaan malu tak bisa ditutupi lagi, juga dirasakan oleh keluarga kedua mempelai.

Gambaran suasana menyedihkan dan pengalaman akan “kekurangan” di atas yang terjadi di awal pelayanan Yesus (Yohanes 2:1-11). Sebuah pesta perkawinan pada zaman Yesus adalah acara besar yang bisa memakan waktu selama tujuh hari. Kehabisan anggur akan merupakan hal yang mempermalukan kedua mempelai dan keluarga serta kerabatnya yang tak akan terlupakan seumur hidup.

Mungkin karena banyaknya jumlah tamu, sebuah pesta perkawinan di Kana kehabisan anggur. Ibu Yesus melihat situasi krisis ini. Lalu ia meminta Yesus untuk menolong mereka mengatasi situasi genting ini (ay.3). Meski jawaban Yesus sulit dipahami (ay.4), ibu Yesus memercayakan segala sesuatu pada Dia. Ibu Yesus juga meminta para pelayan untuk mau bekerja sama dengan Yesus (ay. 5). Maria tidak tahu apa yang akan Yesus lakukan, tetapi ia percaya bahwa Yesus berbelas kasihan dan akan melakukan apa yang baik. Ini menjadi pelajaran bagi kita yang percaya kepada Yesus dan sedang mengalami peristiwa yang tidak dapat kita pahami dan menggelisahkan kita. Apa yang harus kita lakukan adalah tetap percaya bahwa Ia akan melakukan yang terbaik bagi umat-Nya. Dan terjadilah mukjizat yang pertama kali dilakukan oleh Yesus, air berubah menjadi anggur! Kekhawatiran berubah menjadi kelegaan dan sukacita.

Melalui mukjizat tersebut, Yesus menyatakan kuasa-Nya dan menggambarkan hadirnya Kerajaan Allah di dalam hidup manusia. Iman murid-murid-Nya pun jadi semakin dalam. Itulah tujuan Allah melakukan mukjizat di dalam hidup manusia, yakni untuk memperbarui iman orang yang percaya kepada Dia sehingga iman kita semakin bertumbuh.

Peristiwa mukjizat Yesus “mengubah air menjadi anggur”sehingga kehidupan kita yang semula sedang “kekurangan”diganti dengan kelimpahan dapat terjadi dalam pengalaman iman kita. Saat terjadi kondisi krusial, kita bisa mengalami pertolongan yang tidak terduga. Keajaiban tidak selalu terjadi, tetapi nyata adanya dalam momen yang menentukan. Kita dapat saja menemukan solusi di luar perencanaan dan perkiraan. Bahkan jalan keluar yang Tuhan sediakan melebih daripada yang kita harapkan. Anugerah anggur keselamatan adalah pemeliharaan Allah yang melimpah di saat kita mengalami krisis dan tidak menemukan jalan keluar. Percayalah, mukjizat itu nyata.

Pdt. Adi Cahyono, M.Si