Sesuai dengan kalender gerejawi, minggu setelah peringatan Pentakosta, gereja-gereja arus utama menghayati Minggu Trinitas. Kalau ditelusuri, kita tidak bisa menemukan kata Trinitas secara tersurat dalam Alkitab karena itu merupakan doktrin gereja yang berkembang setelah tersusun/ditetapkannya Alkitab dalam konsesus yang dikenal dengan nama Kanonisasi. Namun melalui bacaan Injil hari ini yaitu Yohanes 16:12- 15 kita bisa menemukan salah satu dasar doktrin Trinitas tersebut.
Perikop Yohanes 16 merupakan rangkaian katakata Yesus yang berharga dan diucapkan dalam kaitan dengan kepergian-Nya kepada Bapa sesaat lagi dan juga mengingat keadaan yang akan dialami para pengikut Tuhan tanpa kehadiran diri-Nya (16:4). Dalam ay.12-15 Yesus memberi tanda dan firman supaya orang banyak percaya kepada-Nya. Yesus menjanjikan akan hadirnya Roh Kebenaran. Yesus juga menjelaskan bahwa peran Roh Kudus memuliakan Yesus dengan membuka seluruh isi-kekayaan Yesus yang tersembunyi (ay. 13-14). Yesus sendiri memuliakan Bapa (lih. Yoh 14:13; 17:4) yang dari padaNya Ia menerima segala sesuatu (bdk Yoh 3:35; 5:22,26; 13:3; 17:2). Dengan demikian pewahyuan kebenaran itu adalah satu: ia bersumberkan Bapa, terlaksana melalui Anak dan diselesaikan dalam Roh Kudus demi kemuliaan Anak dan Bapa.
Pdt. Prof. Joas Adiprasetya menuliskan pokok ajaran tentang Trinitas demikian:
- Allah itu tiga Pribadi yang berbeda namun bersekutu begitu erat dan akrab hingga kita mengalami Allah yang esa.
- Allah persekutuan itu adalah kasih, saling mengasihi dan bersama-sama mengasihi ciptaan.
- Ketiga Pribadi bekerja bersama-sama untuk mengasihi CIPTAAN: mencipta, menyelamatkan, dan menguduskan.
- Berbeda namun bersekutu begitu erat sebagai Allah yang esa.
Lalu bagaimana relevansinya bagi kehidupan orang percaya masa kini yang sudah mengimani dan merasakan kasih Allah Trinitas di tengah dunia yang belum bisa menerima ajaran Trinitas tersebut? Disinilah kita perlu hikmat yang dari Tuhan. Gereja hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk menggenapi kehendak Allah di dunia ini. Berikut sikap atau prinsip yang bisa kita hidupi khususnya dalam konteks Indonesia:
- Keutuhan manusia, tidak bisa dipisahkan antara tubuh dan roh, sebab Kristus (tubuh) dan Roh tidak terpisah. Gereja mesti terus mewartakan karya kasih Allah di dalam Kristus agar semakin banyak orang yang diselamatkan. Pemberitaan Injil merupakan core bussines gereja, yang mestinya menjiwai dan mendasari setiap kegiatan maupun program kerja yang dilakukan gereja.
- Relasi dalam gereja dan masyarakat harus menghargai perbedaan, kesetaraan, dan kesatuan sebab tiga Pribadi itu berbeda, setara, dan menyatu. Kita hidup di tengah bangsa yang majemuk bukan hanya secara agama, tetapi juga bahasa, budaya/adat istiadat. Realita itu bukan untuk dijadikan hambatan melainkan sebuah peluang bahkan kekuatan untuk menyatakan kebenaran Allah di dunia ini.
Dengan demkian seluruh laku hidup gereja harus disesuaikan dan diselaraskan dengan kehendak Allah dengan terus meminta dan mengandalkan hikmat Allah melalui kuasa Roh Kudus. Imanuel.
Pdt. Adi Cahyono