Pada hari Sabtu, 9 Februari 2019 kemarin, telah dilaksanakan Rapat Kerja (RAKER) Majelis Jemaat dengan seluruh Badan pelayanan yang ada dalam lingkup struktural GKI Delima. Dalam kesempatan itu, telah ditetapkan bersama-sama rencana kegiatan/program tahun pelayanan 2019-2020. Dalam pelaksanaannya, program-program gereja dibedakan menjadi 2 yaitu program rutin (seperti kebaktian minggu dan kategorial, dst), dan yang kedua program non rutin yang dalam pelaksanaannya mengikuti dinamika kebutuhan dalam pelayanan. Untuk program non rutin tersebut, ada beberapa program baru sebagai bagian dari inovasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan yang ada, tetapi juga ada program-progam yang tahun sebelumnya tidak atau belum berhasil dilakukan. Tidak perlu disangkali, dalam perjalanan kehidupan, termasuk dalam dunia pelayanan, seringkali kita diperhadapkan pada situasi yang sulit maupun bisa mengalami kegagalan dan menimbulkan perasaan kecewa bahkan putus asa.
Dalam Lukas 5:1-11 diceritakan bahwa Simon dan kawan-kawannya sedang membersihkan jala ketika Yesus datang, lalu menaiki salah satu perahu untuk mengajar orang banyak (ay.1-3). Usai mengajar, Yesus meminta Petrus pergi ke bagian danau yang dalam untuk menangkap ikan (ay.4). Jawaban Petrus menggambarkan kelelahan dan keputusasaan (ay.5). Ia dan kawan-kawannya telah bekerja keras sepanjang malam, tetapi hasilnya nihil. Lalu bagaimana mungkin menjala ikan di siang hari, jika malam sebagai waktu terbaik tidak memberikan hasil apapun? Lagi pula, bagaimana mungkin seorang tukang kayu dan guru paham soal jala-menjala melebihi nelayan? Ini seperti seorang pendeta menginstruksikan cara merancang mesin kepada seorang insinyur.
Namun Petrus akhirnya patuh. Yesus adalah Guru dan perkataan-Nya memang harus dipatuhi, walaupun akan terbukti salah nanti. Namun Petruslah yang kemudian terbukti salah. Ia dan teman-temannya berhasil menjala ikan dalam jumlah yang luar biasa banyak! Jala mereka penuh dan hampir robek (ay.6), hingga datang satu perahu lagi untuk menolong. Kedua perahu itu hampir tenggelam karena sarat ikan. Petrus tersungkur di depan Yesus. Bila di ayat 5, Petrus menyebut Yesus "Guru", tetapi di ayat 8, ia menyebut Yesus "Tuhan". Ini merupakan lompatan besar bagi Petrus dalam pemahamannya akan kebesaran Yesus. Ia mengakui dosanya karena sempat enggan mematuhi perintah Sang Guru. Ia mengira dirinyalah yang ahli menjala ikan, tetapi saat itu ia melihat Yesus sebagai Tuhan yang berkuasa atas danau dan isinya. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam kehidupan para murid. Lukas memaparkan kisah itu sebagai salah satu tanda yang Yesus berikan di hadapan para murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab-kitab Injil sebelumnya. Peristiwa inilah yang membuat mereka mengikut Yesus tanpa ragu saat Dia mengajak mereka jadi penjala manusia (ay.10-11). Para nelayan yang rajin ini pun dipilih Kristus menjadi murid kesayangan-Nya.
Ketika kita tahu siapa yang memanggil kita, niscaya kita akan mengikuti Dia dengan sepenuh hati. Sekalipun panggilan itu amatlah berat, hendaknya setiap orang rela untuk bertekun di dalamnya dan memberikan yang terbaik yang mereka dapat lakukan. Sering kali orang yang begitu rajin dalam bekerja pun harus tetap mengalami kekecewaan, sebagaimana mereka yang telah bekerja keras sepanjang malam tetapi tidak berhasil menangkap apa-apa. Allah ingin supaya kita rajin dalam melaksanakan tugas yang telah Ia berikan dan sekaligus bergantung dalam kebaikan-Nya, bukannya mengandalkan jaminan keberhasilan duniawi. Kita harus menunaikan tugas kita dan menyerahkan hasilnya ke tangan Allah. Saat kita merasa lelah dan kalah dalam usaha/pekerjaan dan pelayanan kita di dunia ini, kita selalu dapat menghampiri Kristus dan menumpahkan segala masalah kita di hadapan-Nya, dan Dia pasti akan membantu kita menyelesaikannya. Mereka yang telah terlatih dalam bersabar menghadapi penderitaan layak dipilih sebagai prajurit-prajurit Kristus Yesus yang baik.
Pdt. Adi Cahyono, M.Si