Bagi kita saat ini mendengar kata “toxic” bukanlah hal asing. Kata tersebut langsung mengingatkan kita pada suatu sikap, tindakan/perbuatan yang membuat orang lain tidak nyaman, bahkan melukai hati. Secara harfiah kata “toxic” memang berarti racun atau beracun yang biasanya digunakan untuk menggambarkan suatu zat ataupun obat yang beracun. Namun kata tersebut sekarang ini sering dipakai untuk menggambarkan suatu hubungan dan sikap/tindakan yang tidak sehat serta berakibat tidak baik atau buruk bagi keadaan fisik maupun mental seseorang.

Berikut ini ciri-ciri tindakan yang termasuk “toxic”: memiliki sifat yang sering menyusahkan dan merugikan orang lain; menebarkan sesuatu yang negatif ke lingkungan sekitarnya; cenderung egois; tidak mengakui kesalahan; sering merendahkan orang lain; senang memanipulasi orang lain untuk kepentingannya; merasa dirinya paling benar; dan tidak punya rasa empati khususnya kepada orang yang dia benci. Berhadapan dengan individu atau kelompok yang demikian tentu menimbulkan persoalan dan menjadi pergumulan yang tidak mudah.

Pada minggu prapaskah IV kali ini, bacaan Injil Yohanes 9:1-41 bercerita tentang Yesus menyembuhkan seorang yang buta sejak lahir dengan cara unik dan kreatif di tengah lingkungan yang toxic. Yesus membarui pandangan teologis yang berlaku umum pada saat itu saat menjawab pertanyaan para murid dengan mengatakan bahwa “bukan orang tuanya atau orang tersebut yang berdosa, tetapi pekerjaan Allah harus dinyatakan dalam diri orang tsb” (ay.2-3). Yesus bukan hanya menyembuhkan orang buta tsb, tetapi juga memberikan dukungan ketika orang banyak cenderung menghakimi dan meragukan kesaksian imannya. Kehadiran Yesus membawa orang buta itu pada terang hidup yang sesungguhnya dan menerangi relasi palsu dan kelabu yang ada di lingkungan sekitarnya (ay.35-38).

Paulus dalam Efesus 5: 8-14 menegaskan supaya kita meneladani Yesus menjadi terang seperti kisah di atas. Hidup dalam terang itu berarti membuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Dengan kata lain, hidup menjadi terang artinya kita berpikir, berperasaan, bersikap, berkata-kata, berbuat atau berperilaku yang berdampak membangun orang yang kita jumpai. Menjadi pribadi yang selalu mendukung dan menolong orang lain agar tidak dikucilkan, diabaikan atau didiskriminasi.

Kiranya firman Tuhan hari ini menjadi inspirasi dan pendorong bagi kita untuk belajar dan bersikap dengan tepat dalam suatu komunitas yang diskriminatif dan toxic. Mari kita terus berusaha menjadi pribadi dan komunitas yang tidak toxic, sehingga melaluinya terang Kristus bisa dirasakan dan dialami oleh siapapun. Soli Deo Gloria.

- Pdt. Adi Cahyono -