Cinta Bapa
Cinta Sang Bapa bukan sesuatu logis, namun sesuatu yang emosional dan spiritual. Cinta tulus mencintai kita bukan karena kita melakukan susuatu.

"Anak yang Hilang"

Pembacaan kita hari ini menggambarkan dua anak yang hilang. Anak hilang pertama; anak yang hilang di rumahnya sendiri karena merasa tidak pernah puas akan pembarian Sang Bapa dan anak hilang kedua; anak hilang di luar dari rumahnya karena meninggalkan rumah Bapanya berfoya-foya dengan hasil dari uang warisannya.

Anak hilang kedua ini telah meminta hak warisannya dan menghabiskan untuk berfoya-foya sampai pada titik nadinya ketika yang warisannya habis dan anak hilang ini harus menjadi bekerja memberi makan babi. Hal ini dianggap sebagai hukuman atas apa yang telah dilakukan sebelumnya. Di titik nadir tanpa daya, akhirnya membawa anak hilang ini teringat pada ayahnya dan kerinduan yang sangat besar atas ayahnya, maka pulang lah ia kepada Bapanya.

Sang Bapa mengenalnya sekalipun perawakan anak hilang ini sangan berubah dan buruk. Sang Bapa memeluknya, memberikan anak hilangnini jubah terbaik, cincin, sepatu dan pesta penyambutan untuk anak hilang ini. Apa yang dilakukan Sang Bapa adalah bentuk dari cinta tulus yang sangat luar biasa.

Cinta tulus sang Bapa yang menerima anak-Nya yang telah hilang untuk kembali lagi.

Saperti Tuhan Allah adalah Bapa yang mencintai kita dengan sangat tulus akan menerima kita untuk kembali dalam pertobatan kita.

Pertobatan yang sungguh-sungguh dan bukan sekedar "kepura-puraan" atau tindakan yang tidak bernilai. Sekalipun Allah adalah Bapa yang Baik namun Allah bukanlah Bapa yang bersedia dipermainkan termasuk oleh pertobatan kita. Amin.

 

 

Pdt. Ima F. S