Minggu ini kita memperingati Transfigurasi Yesus, yaitu peristiwa perubahan rupa Yesus. Tradisi gereja ini mengacu pada kesaksian Injil-injil sinoptik (Mat 17:2; Mar 9:2; Luk 9:29). Penekanan perayaan ini adalah pengakuan ke-Tuhanan Yesus. Secara liturgis peristiwa ini menjadi tanda dimulainya masa sengsara yang sudah dikemukakan Yesus kepada para murid-Nya.

Injil Lukas 9:28-43 mengisahkan tentang peristiwa transfigurasi Yesus yang membuat Petrus dan Yakobus serta Yohanes terpesona. Petrus lalu mengusulkan untuk membuat kemah bagi ketiga tokoh utama itu (ay.33). Petrus merasa bahwa penglihatan itu begitu bagus, sehingga ingin berlama-lama menikmati suasana surgawi tersebut. Namun kemudian terdengar suara "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia" (ay.35) yang mau menegaskan arti dan maksud dari peristiwa tersebut. Suara itu menegaskan bahwa Yesus adalah anak Allah yang ajaran dan perintahnya mesti didengarkan dan ditaati. Peristiwa itu bisa dimaknai pula bahwa kebesaran dan kemuliaan Tuhan tidak bisa dibatasi dalam bangunan buatan manusia yang terbatas dan fana. Selain itu, kemuliaan tersebut bukan hanya untuk mereka bertiga (eksklusif) tapi harus diwartakan bagi dunia.

Di dalam Kristus, kita dapat mengalami kehadiran kemuliaan Allah yang berkuasa mengubah dan membaharui. Namun demikian tidak semua manusia bisa melihat kemuliaan Allah dalam diri Kristus, khususnya di masa sekarang ini. Kita patut bersyukur gereja mainstream termasuk GKI masih menghidupi tradisi berdasarkan tahun liturgi/kalender gerejawi yang menolong umat untuk menghayati beberapa peristiwa penting terkait karya penyelamat Kristus bagi dunia.

Pada tanggal 03 Maret 2022 mendatang, GKI Delima akan menyelenggarakan kebaktian Rabu Abu dimana akan dilakukan penorehan/pengolesan abu di dahi. Hal ini dilakukan sebagai permulaan memasuki masa Pra Paskah, dimana kita akan menghayati kembali karya penyelamatan Kristus dengan melakukan puasa dan bertarak terhadap keinginan-keinginan dan nafsu duniawi agar siap merayakan peristiwa Paskah (Kebangkitan Kristus).

Lalu melalui Aksi Puasa Paskah yang dilakukan gereja kita belajar menghayati penderitaan yang harus Kristus alami untuk menyelamatkan manusia dan menjadi semakin peka terhadap kesulitan, penderitaan atau kebutuhan orang lain lalu berupaya untuk menolongnya. Ini menjadi kesempatan bagi kita untuk benar-benar menunjukkan iman kita, bukan hanya kesalehan pribadi semata akan tetapi juga peka terhadap realita di sekitar kita dengan aksi nyata.

Marilah mempersiapkan diri memasuki masa Prapaskah ini, sebagai masa pertobatan yaitu masa pengujian diri tentang apa dan bagaimana sikap kita di hadapan Tuhan dalam kehidupan keseharian kita. Mari kita mengisi dengan pola hidup meditatif dalam arti selalu intropeksi diri agar semakin berkenan di hadapan Tuhan sehingga hati kita benar-benar diubahkan oleh kuasa-Nya. Tuhan memberkati.

 

Pdt. Adi Cahyono