Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata lemah lembut memiliki makna :” Baik hati atau peramah”. Dalam Bahasa Yunani kata lemah lembut (praus), yang bermakna: 1) tunduk pada kehendak Allah 2). Mau diajari dalam arti tidak sombong untuk menerima pengajaran, 3) lemah lembut. Lembah lembut merupakan sikap batin untuk hidup secara rendah hati, dalam kerendahhatian orang mendapatkan kekuatan dalam menghadapi kenyataan-kenyataan hidup.

Pada minggu ke-6 Pra paskah ini dikisahkan bagiamana kelemahlembutan Tuhan Yesus dalam peristiwa Yesus dan murid-muridnya memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai dimana orang banyak menghamparkan pakaiannya dijalan. Maksud tindakan mereka adalah: Yesus yang lewat tidak menjejakan kakinya ke tanah. Tanah merupakan gambaran akan kerapuhan dan kelemahan manusiawi dan kesediaan untuk tunduk pada DIA yang datang. Ketundukan total kepada Tuhan menjadi inti dari sikap kelemahlembutan seperti yang dicerminkan dalam sikap Tuhan Yesus.

SSikap Yesus yang menempatkan diri sebagai hamba Allah membuat Yesus setia menjalankan tugas, bahkan dalam menanggung derita, berbagai kesulitan, kekerasan, kesakitan yang dialami didalam tugas tidak dibalasnya dengan jalan kekerasan. Ketaatan sang hamba digambarkan seperti seorang murid yang tetap bertekun mendengarkan nasehat-nasehat dan pengajaran dari gurunya sekalipun pelajaran yang disampaikan sang guru itu berat. Ketaatan yang membawa kepada hidup yang tidak beroreintasi pada dirinya sendiri namun bagi banyak orang.

Kelemahlembutan yang beriringan dengan sikap batin rendah hati seperti firman Tuhan: “ Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:5-7). Sebagai murid-murid Yesus bagaimana tanggapan kita? Apakah kita menyambut Yesus dalam sikap batin dan tunduk dan taat dalam kerendahan hati mewujudkan hidup yang lemahlembut seperti Yesus? Atau sebaliknya menyambut Yesus dengan sorak sorai namun sesaat lagi menyalibkan Dia?. Sola gracia

Pdt. Ima F. Simamora