Minggu ini kita sudah memasuki Minggu Pra Paskah III yang disebut juga “Oculi”, yang artinya “mataku tetap terarah kepada Tuhan”. Dalam minggu Pra Paskah ketiga umat diajak untuk senantiasa mengarahkan hidupnya kepada Tuhan yang penuh cinta kasih dan selalu menyelaraskan kehidupan umat dengan kehendak-Nya.

Dalam bacaan Injil Yohanes 2:13-22 hari ini, berfokus pada kemarahan Yesus saat datang di Bait Allah. Bagi orang Yahudi, Bait Allah merupakan pusat peribadahan dan simbol kehadiran Allah. Namun kala itu penuh dengan berbagai penipuan bahkan praktik pemerasan terhadap umat melalui penjualan hewan kurban dan penukaran uang persembahan. Kemarahan Yesus di Bait Allah adalah upaya mengembalikan kekudusan Bait Allah sekaligus menjadi pengantar Yesus menjelaskan tentang peristiwa kematian dan kebangkitan-Nya (ay.16-19). Pernyataan Yesus yang akan mendirikan kembali Bait Suci dalam tiga hari, merupakan gambaran tubuh-Nya sendiri yang dibangkitkan dari kematian pada hari yang ketiga. Itu semua dilakukan karena cinta kasih-Nya kepada umat agar kembali kepada kekudusan hidup dan beribadah kepada Allah dengan tulus.

Yesus adalah Bait Allah yang sejati, yaitu tanda kehadiran Allah dan penyataan diri Allah. Dengan mengalami kehadiran Allah dalam diri Yesus, maka orang dapat menjalani hidup yang berat ini bersama Dia. Kabar baik ini sangat dibutuhkan dalam dunia sekarang ini, di mana budaya materialisme dan hedonisme sangat dominan. Media informasi pun penuh penawaran gaya hidup dan iklan komersialisasi yang berpusat pada materi dan pengakuan diri. Keserakahan dan konsumsi berlebihan terjadi, dan akibatnya adalah pementingan diri/ kelompok sendiri dan ketidakadilan bagi orang lain di luar kelompoknya. Pemerasan dan ketidakadilan dalam bidang ekonomi, sosial, hukum, politik, bahkan agama, dan berbagai bidang yang lain, masih sering terjadi sampai saat ini. Pemerasan dan ketidakadilan seringkali membuat orang yang mengalaminya menjadi putus asa dan merasa tak berdaya untuk melakukan sesuatu guna mengubah situasi yang ia alami. Maka dibutuhkan iman kepada Allah yang hadir dan menyatakan diri dalam Yesus, agar orang dapat mengalami kehadiran-Nya dalam hidup sehari hari.

Hari ini kita diingatkan untuk memperjuangkan keadilan bagi semua, dan menghindarkan diri dari praktik pemerasan dan penindasan. Bagi kita yang memiliki kemampuan dan kekuasaan dapat berbagi dengan orang lain agar orang lain pun dapat berupaya meningkatkan diri. Kita juga diingatkan agar tidak mengandalkan kekayaan, kekuasaan, dan kemampuan diri. Melainkan percaya penuh bahwa Yesus yang adalah Bait Allah yang sejati sebagai pusat kehidupan. Soli Deo Gloria. 

- Pdt. Adi Cahyono -