Dalam perjalanan hidup berumah tangga atau berkeluarga, kesulitan dan penderitaan hidup menjadi rangkaian pengalaman yang tidak terhindarkan sekalipun oleh umat Allah yang dikasihi dan dilindungi-Nya. Banyak orang berasumsi dan seringkali berharap bahwa kedekatan dengan Allah akan menjadi jaminan bahwa hidup bebas dari kesulitan dan penderitaan.
Semua orang bisa mengalami hujan, gelombang bahkan badai kehidupan. Namun orang yang rendah hati akan selalu datang kepada Tuhan karena menyadari keberadaannya dan bergantung penuh kepada anugerahNya. Inilah yang ternyata diperkenan Allah dibandingkan dengan orang yang pongah dan tidak membutuhkan Allah, yang bersikap selalu merasa sudah benar dan baik sendiri, serta merasa berhak untuk merendahkan sesamanya.
Dalam bacaan Injil hari ini, melalui perumpamaan tentang Orang Farisi dan Pemungut Cukai Yesus memberi pengajaran kepada orang-orang yang selalu merasa diri benar dan memandang rendah semua orang lain. Dalam hal ini Yesus menyoroti sikap orang Farisi yang begitu yakin akan kebenaran dirinya dan memandang rendah orang lain. Apa yang salah dengan sikap semacam ini? Orang semacam ini lebih percaya pada kemampuan diri sendiri daripada percaya kepada Allah. Hal ini nampak ketika ia melaporkan kepada Allah mengenai semua kewajiban agama yang telah ia laksanakan dengan begitu baiknya (ay.11-12). Seolah-olah keberadaannya menjadi berkat bagi Allah, bukan sebaliknya sehingga tidak tersirat sedikit pun kebutuhannya akan Allah. Tampaknya ia merasa sebagai orang yang layak untuk berdiri di hadapan Allah karena semua kebaikan yang telah dibuatnya. Sikap ini jelas berbahaya! Sebaliknya, si Pemungut cukai menyadari keberadaan dirinya sebagai orang berdosa, yang sesungguhnya tak layak menghadap Allah (ay.13). Namun demikian, pemungut cukai yang sering dianggap tak layak oleh orang-orang disekitarnya, justru disambut di dalam Kerajaan Allah karena sikapnya tersebut (ay.14).
Melalui kisah ini kita belajar bahwa orang yang beriman mestinya datang pada Allah bukan karena perbuatan baik atau karena segala sesuatu yang dimiliki, tetapi karena kebutuhan akan Allah yang penuh dengan kasih karunia. Bukan dengan sikap pongah dan merasa layak untuk masuk ke dalamnya, melainkan dengan rendah hati karena tahu bahwa sesungguhnya kita tidak layak.
Di bulan keluarga tahun 2022 ini, sebagai keluarga Kristus marilah kita senantiasa bersandar dan mengandalkan Tuhan dalam segala persoalan. Bukan mengandalkan kekuatan/kehebatan diri sendiri. Teruslah introspeksi dalam segala situasi, selalu sadar diri agar kehidupan keluarga kita bisa menjadi kesaksian bagi kemuliaan Tuhan. Teruslah bersikap rendah hati, Tuhan memberkati senantiasa.
Pdt. Adi Cahyono