Perjalanan kehidupan orang beriman semestinya membawa dampak positif yang nampak dari adanya perubahan perilaku yang bersifat personal maupun sosial. Artinya,apa yang dilakukan dalam aktivitas (baca: ritual) keagamaan semestinya membawa dampak bagi setiap pribadi yang menjalankannya dan bisa dirasakan orang-orang di sekitarnya. Demikian pula bagi para pengikut Kristus, setiap merasakan perjumpaan dengan Kristus, maka ada perubahan diri yang dampaknya bisa dirasakan oleh orang dan lingkungan dimana dirinya berada.

Dalam bacaan Injil hari ini, dituliskan kisah tentang Yesus yang bertemu dengan Zakheus seorang kepala pemungut cukai, yaitu seorang Yahudi yang bekerja pada pemerintah Roma. Sudah menjadi rahasia umum bila sebagai pemungut cukai, ia memperkaya diri dengan memeras bangsanya sendiri atau dengan menggelapkan cukai. Oleh karena itu mereka dianggap sebagai pengkhianat oleh orangorang sebangsanya. Bahkan bagi masyarakat Yahudi, pemungut cukai dianggap orang paling berdosa bagi Allah dan tidak pantas mendapat pengampunan dan keselamatan Allah.

Tetapi Yesus yang melihat Zakheus berada di atas pohon, justru menyatakan mau menumpang di rumahnya (ay.5). Sikap Yesus ini membuat orang banyak bersungutsungut(ay.7). Namun dengan bersedia menumpang di rumah Zakheus, Yesus sesungguhnya sedang mengajarkan bahwa anugerah Allah berlaku juga atas orang yang banyak dosanya dan dibuang oleh sesamanya. Itulah misi Yesus datang ke dunia, yaitu untuk mencari dan menyelamatkan yang sesat (ay.10).

Zakheus pun bersukacita menerima Yesus (ay.6). Pertemuan dengan Yesus membuat ia sadar bahwa hidupnya perlu diubah. Sebagai respons dari penyambutan Yesus atas dirinya, ia memberikan setengah dari hartanya untuk diserahkan kepada orang miskin dan bagi orang-orang yang telah diperasnya dikembalikan empat kali lipat (ay.8). Itulah bukti bahwa anugerah Allah telah mengubah hidupnya. Iman dan bukti pertobatan tersebut adalah tanda bahwa ia orang beriman, anak Abraham (ay.9).

Melalui kisah ini kita belajar bahwa orang beriman yang mengalami perjumpaan dengan Kristus secara personal akan mengalami perubahan nyata dalam sikap dan tindakannya, yang nampak dalam relasi dengan sesama dan lingkungannya. Bagaimana kehidupan beriman keluarga kita selama ini? Sudahkah Kristus menjadi inspirasi perubahan hidup keluarga kita yang bisa dirasakan dampaknya?

Minggu ini adalah minggu terakhir di bulan Oktober sekaligus penutupan Bulan Keluarga GKI Delima tahun 2022. Kita bersyukur selama satu bulan ini terus merefleksikan keberadaan hidup beriman sebagai keluarga Kristus di GKI Delima. Marilah kita senantiasa mencari Tuhan dalam segala situasi dan keadaan agar kehidupan keluarga kita bisa menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama-Nya. Tuhan memberkati senantiasa. 

 

  

Pdt. Adi Cahyono