Hidup pada masa pandemi seperti sekarang memang sangat sulit. Himpitan ekonomi karena berkurangnya penghasilan atau hilangnya sumber pemasukan tentu sangat berat. Padahal kebutuhan hidup tidak bisa dihindari dan harus dipenuhi, belum lagi kalau ada anggota keluarga yang sakit. Situasi seperti ini memang bisa membuat kepedulian terhadap sesama menjadi sesuatu yang tidak terpikirkan. Orang-orang menjadi cenderung mementingkan diri sendiri bukan karena tidak peduli, tetapi karena keadaannya sendiri saja sulit, bagaimana untuk membantu atau peduli untuk orang lain? Ini sebenarnya adalah gambaran mengenai keadaan manusia pada masa akhir nantinya, yang sudah mulai kita rasakan saat ini. Meski demikian, apapun situasinya, orang percaya diajar untuk memiliki kasih seperti Kristus yang rela berkurban dengan setia bagi keselamatan manusia. Diantaranya disebutkan dalam bacaan kedua dalam ibadah minggu ini.
Penjelasan keimamam Yesus dalam Ibrani 7:23-28 ini mencapai puncaknya. Yesus adalah seorang Imam Besar yang agung dan sempurna; semua imam yang ada sebelumnya dalam Perjanjian Lama tidak mungkin dan tidak akan pernah mencapai kesempurnaan itu (ay.25). Yesus melakukan sesuatu yang tidak pernah dan tidak mungkin dilakukan oleh imam lain, karena Yesus mempersembahkan diri dan nyawa-Nya sendiri sebagai kurban penebus dosa (ay. 27). Dia menjadi imam sekaligus menjadi kurban persembahan untuk menyelamatkan manusia! Pengurbanan-Nya dibangun atas dasar agar Bapa dimuliakan dan janji Allah digenapi melalui hidup-Nya. Seluruh pengurbanan dan pelayanan Yesus di dunia ini diarahkan pada satu gol yang jelas, yaitu Bapa dimuliakan dan genaplah janji Bapa tentang karya keselamatan bagi dunia ini.
Dalam bacaan Injil minggu ini, Yesus melakukan mukjizat menyembuhkan Bartimeus. Yesus tidak pernah melakukan semuanya itu agar Dia dimuliakan atau disanjung tinggi oleh para pengagum-Nya, melainkan supaya Bapa-Nya dimuliakan (Mrk 10:52 bdk Luk 18:43). Dalam keberadaannya sebagai manusia saat berada di muka bumi ini, Ia memiliki hubungan yang akrab dan intim dengan Bapa-Nya sehingga dengan taat dan setia bisa melakukan semua rencana Bapa termasuk ketika mengurbankan nyawaNya di kayu salib. Yesus Kristus adalah teladan utama dalam memperlihatkan semangat rela berkurban dan setia kepada Bapa. Bahkan di tengah penderitaan dan rasa sakit pribadi yang luar biasa. Nilai-nilai inilah yang hendaknya dimiliki oleh setiap keluarga Allah.
Sebagai keluarga Allah kita harus terus menerus meneladani Kristus dalam setiap tindakan dan pengurbanan kita untuk sesama. Khususnya saat sedang dalam situasi sulit dan badai kehidupan. Karena untuk peduli ke orang lain akan menjadi susah kalau fokusnya adalah persoalan/kesulitan diri sendiri. Selain itu perlu untuk dipahami dan diingat bahwa dalam hal memberi/peduli sebenarnya bukan semata-mata bicara mengenai uang atau materi, melainkan juga bisa dalam bentuk perhatian, waktu, tenaga, dan pikiran. Mari kita dengan penuh kasih dan ketulusan memberikan dari apa yang kita miliki dengan semangat melakukannya seperti untuk Tuhan bukan untuk manusia. Maksudnya, melakukan dan memberikan yang terbaik ketika berkurban bagi sesama. Niscaya hidup kita dapat menjadi kesaksian yang berkenan bagi Tuhan dan memberkati orang lain.
Pdt. Adi Cahyono