Minggu ini merupakan penutupan Bulan Keluarga GKI Delima. Kita bersyukur dalam satu bulan ini diajak untuk memahami dan menghayati kembali keberadaan kita sebagai sebuah keluarga di dalam Tuhan. Kita adalah anak-anak Allah karena pengurbanan Kristus di kayu salib yang memperdamaikan kita dengan Allah dan mempersatukan kita sebagai keluarga Allah. Kristus sebagai Imam Besar Agung juga menjadi teladan sejati kita untuk mentaati Allah dan setia kepada-Nya dari sekarang sampai selama-lamanya.
Dalam bacaan I hari ini, Musa memberikan instruksi kepada bangsa Israel untuk hidup mentaati firman Allah. Ulangan 6:4-9 sering disebut sebagai syema yitsrael, suatu panggilan bagi Israel untuk mendengar dan melakukan firman Tuhan. Syema ini merupakan pengakuan iman monoteisme Israel yang paling mendasar. Isinya memberikan penegasan bahwa Allah secara total berbeda dengan allah yang lain. Ia menyatakan diri- Nya kepada Israel dan dapat dipercaya karena Ia tidak berubah. Melalui syema Israel diajar untuk memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan sebagai prioritas utama. Pengakuan akan keesaan Allah tersebut harus diajarkan kepada keturunan mereka di mana saja dan kapan saja (ay.6-7). Hal tersebut juga perlu "mendarah-daging" di dalam keseluruhan aspek kehidupan mereka tanpa terkecuali (ay.8-9).
Ayat-ayat ini memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan iman Israel. Syema ini harus tertanam dalam hati orang Israel,termasuk hati anak-anak Israel dan harus menjadi bagian hidup sehari-hari, menjadi identitas pribadi dan menjadi identitas keluarga serta masyarakat Israel. Mereka melafalkan syema tiga kali dalam sehari, dan saat penyembahan pada Hari Sabat di rumah ibadah. Tujuannya, agar rasa takut akan TUHAN dibangkitkan dalam kesadaran bangsa Israel. Dengan melakukannya, mereka akan mengalami berkat Tuhan dalam bentuk lanjut umur dan multiplikasi (ay.3). Dengan demikian pengakuan kepada Allah lewat firman-Nya menjadi pusat dan arah hidup setiap umat-Nya. Di dalam cinta ini terkandung komitmen dan kesetiaan yang menyeluruh dan total.
Dalam segala keberadaan kita baik secara fisik (sempurna atau berkebutuhan khusus), dari latar belakang suku, budaya maupun etnisnya, tingkat pendidikan maupun status sosial bahkan dengan segala realita pengalaman masa lalu setiap orang di dalamnya, Allah tetap menerima dan mengasihi setiap pribadi yang percaya, taat dan setia kepada-Nya. Sudah semestinya sebagai pribadi yang dikasihi Allah melalui Kristus, maka setiap kita juga mestinya menunjukkan rasa syukurnya dengan mengasihi dan mencintai Allah. Ia senantiasa hadir dalam kehidupan manusia dan menyapa melalui firman-Nya yang tertulis di kitab suci. Oleh sebab itu kita harus senantiasa membaca/ mendengar, memahami dan mentaati firman-Nya.
Marilah setiap kita juga berkomitmen untuk terus menerapkan firman Tuhan yang kita dengar dan dapatkan dengan serius dan konsisten. Ungkapan cinta pada Tuhan termanifestasikan melalui ketaatan dan komitmen kita untuk melakukan firman-Nya. Niscaya hidup kita akan menjadi kesaksian yang berkenan bagi Tuhan dan memberkati banyak orang. Tuhan memberkati.
Pdt. Adi Cahyono