Kebaktian pada hari Minggu 16 Agustus 2020 merupakan kebaktian kebangsaan untuk menyambut dan merayakan HUT kemerdekaan RI ke-75 yang jatuh pada hari Senin esok hari. Kita patut bersyukur sebagai bangsa Indonesia masih hidup sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat untuk melangsungkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Meskipun di tengah pandemi yang belum berhenti, justru bisa menjadi momentum yang baik bagi bangsa ini untuk kembali dipersatukan dalam menghadapi musuh bersama yaitu virus Corona. Biasanya kita sulit untuk menganggap orang yang berbeda ras, bahasa, suku, dan status sosial sebagai sesama yang patut dihargai ketika merasa diri lebih baik dan menganggap rendah orang/kelompok lain (superioritas). Bagaimana sikap Tuhan dalam hal seperti ini?
Dalam Injil Matius 15:21-28, diceritakan Tuhan Yesus menyembuhkan anak perempuan seorang perempuan Kanaan yang bagi orang/bangsa Yahudi dianggap sebagai kafir. Percakapan Tuhan Yesus dengan perempuan Kanaan seakan-akan menyiratkan pelayanan Tuhan Yesus sempit (ay. 24). Namun di balik perkataanNya itu, Yesus mau mengoreksi pandangan "sempit" para murid. Mereka beranggapan bahwa Tuhan Yesus hanya diutus kepada orang Yahudi. Tindakan Yesus tersebut menunjukkan bahwa kepedulian-Nya tidak dibatasi hanya kepada suku dan bangsa-Nya sendiri. Kepedulian Tuhan Yesus terhadap bangsa non Yahudi juga ditunjukkan-Nya dengan mengunjungi wilayah utara Galilea ke desa-desa orang-orang yang dianggap kafir (ay. 29-31). Di sana Ia juga menyembuhkan mereka yang mengalami berbagai penyakit. Perbuatan mukjizat yang pernah Yesus dilakukan untuk umat Yahudi kini dilakukan-Nya kepada orang-orang non Yahudi. Bagi Yesus mereka pun domba-domba hilang yang perlu ditemukan, dihantar pulang dan diselamatkan. Hasilnya mereka semua memuliakan Allah Israel.
Setiap orang, tidak peduli suku, ras, dan bangsa serta bahasanya, memerlukan Tuhan Yesus. Ia ingin kita membagikan kasih penyelamatan-Nya kepada orang-orang yang kita temui. Bukankah Yesus mengasihi dan mati di kayu salib menebus dosa kita, orang non-Yahudi, sehingga mendapat keselamatan dan hidup kekal? Oleh karena itu, mari kita merespons kasih Yesus dengan percaya dan menyatakan kasih Allah tanpa memandang batasan suku, etnik/bangsa, budaya, bahasa, status sosial/pendidikan (lintas batas). Mulailah dengan hal sederhana, yaitu mendoakan pembantu/ART, tetangga atau orang-orang di sekitar kita. Membagi sesuatu untuk mereka ketika ada yang bisa dibagikan, terutama ketika ada kebutuhan mendesak karena sakit, kesulitan membayar uang sekolah, atau perlengkapan untuk sekolah online, dst.
Biarlah kasih Kristus hadir secara nyata bagi seluruh bangsa Indonesia melalui aksi kepedulian kita melintasi batas suku, bangsa dan bahkan agama. Sebab itulah yang dilakukan dan diperintahkan oleh Sang Juruselamat. Dirgahayu Negara Kesatuan Republik Indonesia ke 75 tahun. Tuhan beserta kita senantiasa. (PAC)