Seorang pengrajin sepatu bernama Martin sedang serius membaca kisah orang-orang Yahudi yang menyambut Yesus sambil mengelu-elukan Yesus: “ Hosana…Hosana…Putra Daud.” Lalu Martin berpikir dan bertanya dalam hatinya: “ apakah bila Tuhan Yesus datang, dirinya akan menyambutnya? Bagaimana caranya?. Sampai-sampai dirinya pun tertidur. Keesokan harinya dia bertemu seorang kakek tua yang berjalan dengan lemas dan pelan-pelan didepan tokonya, Martin pun memanggilnya dan memberikan makanan dan kopi dan mengajak kakek itupun mengobrol tentang keluarga dan kondisi kakek itu.
Martin menawarkan kepada kakek itu agar dirinya tidak sungkan untuk datang ke tokonya bila dirinya kesepian atau butuh secangkir kopi. Beberapa hari kemudian ketika Martin ke pasar dia melihat ada seorang ibu yang sedang menggendong anak kecil, ibu ini baru saja menggadaikan shal miliknya untuk diberikan beberapa roti. Martin pun mendekati dan menawarkan agar dirinya saja yang membeli shal itu. Martin pun memberikan sejumlah uang dengan jumlah lebih yang ditawarkan toko. Suatu sore saat Martin hendak berjalanjalan santai ditaman Martin berpapasan dengan seorang ibu yang sedang berkelahi dengan anak laki-lakinya yang baru saja mengambil uang ibu itu. Martinpun mendamaikan pertengkaran itu. Beberapa peristiwa yang sudah dilewati tidak menyurutkan Martin dengan pertanyaan: ”Bagaimanakah caranya menyambut Tuhan Yesus?”. Sampai beberapa hari kemudian ketika Martin membaca alkitab tidak sengaja alkitab itu jatuh dan membelah dan terbacalah : ” Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Matius 25:40. Martin pun membaca bagian ini berulangulang dan membayangkan kapan dirinya bisa mendapatkan momen pertemuan dengan Tuhan Yesus itu; “Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Kemudian Martin terkaget karena mendengar suara memanggil Namanya: “Martin” Martin pun mendongak dan terlintas wajah bapa tua itu yang sedang tersenyum padanya, perempuan miskin penjual shal dengan anaknya yang berjalan sambil menggoyangkan tangannya dan anak yang ketahuan mencuri uang yang sedang berpelukan dengan ibunya. Martin pun tersenyum dan mengerti bagaimana caranya menyambut Tuhannya. (disadur dari kisah :”Tukang sepatu miskin.” Tolstoy”). Menyambut Sang Kristus dalam keseharian dan melalui apa yang ada padanya
Didalam kisah Injil dikisahkan bagaimana Simeon bisa merasakan dan yakin, ” tercelik” bahwa yang datang bukan hanya Maria dan seorang bayi didalam kandungannya namun Sang Juru Selamatnya. Kisah dimana Simeon dapat merasakan dan yakin akan kehadiran Sang Penyelamat melewati indrawi yaitu matanya. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus ada didalam keseharian kita namun mendemontrasikan keselamatan bagi kehidupan adalah panggilan hidup kita seharihari. Seperti kisah tukang sepatu miskin itu yang sudah mendemonstrasikan kasih Allah dalam orang-orang yang sudah ditemuinya. Begitu juga dalam panggilan kita sehingga keselamatan dalam Tuhan Yesus bisa menyebar dan membaharui kehidupan. Perjumpaan yang melewati indrawi kita namun merasuk dalam batin dan iman kita. Perjumpaan dalam cinta, cintanya Kristus bagi kita. SolaGracia
- Pdt. Ima F. Simamora -