Markus 6: 30-34,53-56
“Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.”
Disaat dimana begitu banyak orang-orang yang terpapar sakit, banyak orang-orang sakit yang berada di rumah sakit sedang menunggu antrian, lalu lalang mobil ambulan yang sepertinya tidak berhenti, angka-angka pertambahan yang terpapar virus corona sangat tinggi. Hidup kita seperti orang-orang yang terserak dalam kepanikan dan ketidakberdayaan. Kepanikan, ketakutan dan kegelisahan begitu mencekap. Dimana tempat untuk mecari jalan selamat?. Belum lagi harga dan susahnya mencari obat-obatan dan rumah sakit semakin menambah tekanan didalam hidup. Beberapa waktu lalu ada kabar seseorang rekan yang membutuhkan rumah sakit segera karena sedang dalam kondisi penderita Corona dan harus menjalani penanganan lebih lanjut. Syukur kepada Allah mendapatkan rumah sakit karena beberapa orang berusaha menelepon siapapun yang berkaitan dengan Rumah sakit yang dituju. Ada juga kisah dimana seorang sahabat beberapa waktu lalu yang biasanya sangat mudah ditelepon namun sulit ditelepon. Ketika bisa ditelepon beliau bercerita bahwa beliau sakit covid 19 bersama isterinya dan berbagi kisah ketika awal-awal mengetahui sakit covid 19 rasanya stress dan terpuruk, tidak menyangka bisa kena karena sudah menjalankan protokol kesehatan. Beliau katakan: “awal-awal rasanya kematian itu dekat banget, setiap pagi pas melek rasanya seneng banget: “logh aku masih hidup!” walau ngak enak banget rasanya. Waghhh syukur kepada Allah. Pada sisi yang lain juga tidak dipungkiri banyak kesedihan karena ditinggalkan orang-orang tercinta. Berat sekali rasanya, menghentak dalam kerapuhan. Tidak bisa dilihat, tidak bisa dipeluk, hanya bisa dipandangi dalam kejauhan dan memeluk pigura foto atau gundukan tanah. Ratapan pedih dan perih. Semua situasi itu membuat kita porak poranda. Tidak tahu jalan keluar dan tidak dapat meraba jalan, kita terpuruk.
Saudara-saudari situasi kita sekarang ini memang tidak mudah dan berat. Kemanusiaan kita tidak dapat menanggung semua dinamika yang hadir dalam hidup kita. pada saat itulah kita perlukan SANG PENOLONG. Siapa Dia? TUHAN YESUS KRISTUS. Tuhan Yesus ketika berjalan bersama murid-murid-Nya melihat orang banyak dan tergerak hatinya dengan belas kasihan/ Compassion. Belas kasihan disini bukan sekedari kasihan namun bermakna dorongan besar untuk merasakan kesedihan dan penderitaan dan dorongan besar untuk menghibur yang menderita. Jadi Tuhan Yesus hadir saat ini bersama dengan kita baik bagi mereka yang sedang kehilangan, yang sedang berjuang untuk sembuh dan bagi yang sedang berjuang untuk tetap sehat, khususnya bagi mereka yang berjuang untuk menyelamatkan banyak jiwa. Kita ibaratnya sebagai orang-orang banyak yang terserak seumpama domba-domba yang tak bergembala. Maka ingatlah saudara kita adalah domba-domba Tuhan Yesus Sang Gembala dan Sahabat kita. Tuhan Yesus merasakan tiap tetes air mata, kegelisahan hati dan usaha kita. Teruslah berdoa jangan berhenti berharap dan berusaha. Milikilah hati yang berharap seperti seekor anak domba berharap padang rumput hijau. Terus Semangat bapak, ibu saudara, saudari. Tuhan Yesus sedang memeluk kita. Amin.
(Pdt. Ima F. Simamora)