Perumpamaan merupakan salah satu cara yang dipakai Yesus untuk mengajarkan kebenaran firman Allah. Melalui perumpamaan, selain orang dapat menerima dengan lebih jelas, namun dapat juga membuat kebenaran itu menjadi tertutup dari pengertian seseorang. Karena perumpamaan bisa membuat orang yang tidak paham mencari jawab karena rindu kebenaran atau sebaliknya malah menutup diri karena sombong atau apatis. Sekalipun Yesus bukan pencipta dari metode mengajar ini, cara-Nya memanfaatkan metode tersebut jauh melampaui para pengajar yang lain, dalam hal efektivitas dan kedalaman kebenaran yang digambarkanNya.

Bacaan Injil Matius 13:24-30;36-43 berisi pengajaran Yesus dengan perumpamaan yang masih menggunakan konteks dunia pertanian, yaitu tentang gandum dan lalang. Di daerah Galilea tumbuh semacam lalang yang daunnya hampir sama dengan daum gandum; tetapi bulir lalang itu sangat berlainan dengan bulir gandum; dan orang baru dapat membedakan antara lalang dan gandum ketika gandum dan lalang itu mulai berbulir (ay. 26). Para petani menyebut lalang itu musuh karena mengganggu pertumbuhan gandum. Celakanya, bulir Lalang yang mengandung zat beracun itu selalu tumbuh bersama gandum dan dibiarkan tumbuh. Tetapi bila saat menuai tiba, lalang akan dipisahkan dulu dan diikat berberkas-berkas lalu dibakar. Tinggal tersisa gandumnya untuk dipanen.

Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajarkan bahwa di antara komunitas orang percaya, terselip orangorang yang tidak percaya pengajaran Kristus, sebagai karya Iblis (musuh) yang akan mengganggu pertumbuhan iman orang percaya. Sementara itu Ia akan membiarkan orang yang percaya dan yang tidak percaya hidup bersama-sama sampai tiba waktu dilakukan seleksi. Artinya selama firman Tuhan masih ditaburkan di dunia, selama itu pula Iblis terus berusaha menghancurkannya. Dengan kata lain kejahatan itu akan terus ada bersama-sama dengan kebaikan.

Dalam situasi dan keadaan tertentu mungkin sulit membedakan mana kawan, mana lawan atau mana yang beriman sejati, mana yang beriman semu. Namun itu hanya sampai batas tertentu saja, sebab yang pasti kelak dalam penghakiman-Nya, semua pasti dibukakan. Oleh sebab itu, mari kita tetap percaya dan setia kepadaNya, namun tetap waspada dan berhati-hati. Meskipun banyak himpitan yang menghambat dan meracuni, Tuhan Sang pemilik tahu dan Ia tetap peduli hingga masa panen nanti. Tuhan beserta kita senantiasa. Percayalah!

- Pdt. Adi Cahyono -