Beberapa hari yang lalu dunia medsos Indonesia digemparkan dengan informasi terkait adanya RAPBD DKI Jakarta 2020 yang dinilai tidak wajar atau biasa disebut dengan Dana Siluman yang nilainya sangat fantastis. Ini bermula ketika salah satu anggota DPRD mengupload hasil penelusurannya di akun media sosial. Beragam tanggapan muncul, dibilang cari panggung, tidak punya etika/moral hingga akhirnya oknum tersebut dilaporkan kepada Dewan Kehormatan DPRD. Apalagi ketika dia jelas-jelas memiliki latar belakang yang kurang disukai: muda, Kristen, berani membuka kebenaran.

Di tengah kondisi dunia yang tidak menentu ini, seringkali kita menghadapi banyak kesulitan untuk menunjukkan sepenuhnya identitas kita sebagai pengikut Kristus. Kita berhadapan dengan begitu banyak manusia bertopeng, terkadang diri sendiri pun juga dapat diselimuti kemunafikan. Hal tersebut bisa dilihat dari kehidupan sehari-hari, misalnya: melakukan kebaikan kepada orang lain hanya untuk mendapatkan pujian atau pengakuan atau melakukan pelayanan karena ada maksud dan tujuan tertentu, tidak berani mengutarakan atau mengungkap kebenaran atau hal-hal sensitif yang disembunyikan demi cari aman. Tuhan menginginkan kita untuk menjadi contoh (garam dan terang) dunia dengan cara melakukan hal-hal sebaliknya.

Dalam Matius 5:13-16, Yesus mengajarkan bahwa anak-anak Tuhan adalah garam dan terang dunia. Dunia ini membusuk, memerlukan garam untuk mencegahnya. Sebagai garam, anak Tuhan harus berfungsi untuk mencegah kebusukan dan kebobrokan moral yang semakin merajalela. Ia harus menghadirkan kehidupan yang menyaksikan Allah sehingga orang lain rindu merasakan kehadiran dan kasih Allah. Dunia ini gelap, memerlukan terang untuk menyinarinya. Terang berfungsi menyingkapkan kegelapan dan menuntun orang pada jalan yang benar. Terang tidak boleh ditutupi, apalagi disimpan (ay. 15). Fungsi orang Kristen sebagai terang adalah menyuarakan kebenaran dan keadilan. Anak Tuhan harus berani berkata kepada orang lain bahwa salah adalah salah, dan dosa adalah dosa. Ia harus memberi tuntunan pada orang lain untuk menemukan kebenaran di dalam terang kasih Kristus. Meskipun untuk itu harus ada resiko dan harga yang harus dibayar, tapi saat itulah terang menjadi nyata dan garam memberi rasa.

Dalam Matius 5:16 Yesus menegaskan bahwa “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”. Tuhan menginginkan kita untuk dapat menjadi murid-murid Kristus yang mampu memancarkan kebaikan bagi orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi melainkan agar mereka dapat melihat kasih Kristus di dalam kita.

Apakah saat ini kita sedang hidup berintegritas atau masih menggunakan topeng untuk menutupi identitas diri? Beranikah menyatakan kebenaran? Atau kita adalah garam yang sudah tasteless? Hidup Kristen adalah hidup yang berarti karena telah ditebus dengan darah Kristus. Bukalah topengmu! Kita harus menjadi garam dan terang dunia tanpa ada kemunafikan, yakni melakukan semuanya untuk kemuliaan nama Tuhan dan sebagai bentuk kasih terhadap sesama secara tulus serta bukan untuk kepentingan pribadi atau tujuan dan maksud tertentu. Setiap kebaikan yang dilakukan, pasti akan mendapatkan upah tersendiri dari Allah. Hidup yang demikian bisa menjadi sarana menjangkau orang lain untuk mengalami anugerah yang sama.

PAC