Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, hidup manusia memiliki kecenderungan/bawaan (nature) untuk selalu berbuat dosa. Hidup dalam belenggu dosa dan lebih mencintai kegelapan dari pada terang merupakan hukuman yang seseorang alami akibat dosa-dosanya. Lalu dari hukum Taurat (sepuluh hukum Allah) kita juga menjadi tahu beragamnya dosa yang bisa dan sering dilakukan bahkan diulangi dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya menipu, memfitnah, berbohong/saksi dusta, mengingini kepunyaan orang lain (iri-dengki), menduakan Allah, dst. Tidak ada seorang pun yang mampu berusaha sendiri untuk bebas dari dosa dan menerima pengampunan serta hak masuk surga, kecuali melalui pertolongan Tuhan Yesus. Karena kasihNya, Allah "mengaruniakan" Anak-Nya sebagai korban penghapus dosa di atas kayu salib.
Itulah anugerah Allah yang menyelamatkan yang dijelaskan Yesus kepada Nikodemus seorang Farisi, pemimpin agama Yahudi, tentang bagaimana memperoleh hidup kekal sebagaimana dicatat dalam Injil Yohanes 3:14-21. Yesus mengacu pada kisah ular tembaga (Bilangan 21:4-9) untuk menjelaskan bagaimana anugerah keselamatan yang akan dikerjakanNya. Yesus mengibaratkan kematian-Nya di kayu salib seperti kisah digantungnya ular tembaga di sebuah tiang. Pada saat itu orang-orang Israel memberontak melawan Allah. Sebagai hukuman, Allah mengirimkan ular-ular tedung untuk memagut mereka. Ketika Musa berdoa kepada Allah, maka Allah memerintahkan Musa untuk membuat ular tembaga dan menggantungnya. Siapa saja yang dipagut ular harus memandang ular tembaga itu, bila ingin disembuhkan. Demikian pulalah kematian Yesus di kayu salib (band. Yoh. 12:32-34). Respons seseorang pada karya keselamatan Kristus akan menentukan apa yang akan ia terima: hidup kekal atau hukuman (ay. 14-15).
Dengan demikian orang yang beriman kepada Tuhan Yesus dan menerima salib Kristus sebagai jalan keselamatan dari Allah akan beroleh keselamatan dan hidup kekal. Makna "kekal" disini bukan saja mengacu kepada keabadian yang baru terjadi setelah kematian tetapi juga kepada kualitas kehidupan pribadinya. Maksudnya yaitu suatu jenis kehidupan yang ilahi, kehidupan yang membebaskan kita dari kuasa dosa dan belenggu Iblis serta meniadakan yang duniawi di dalam diri kita supaya kita dapat mengenal Allah. Inilah yang disebut sebagai “lahir baru”, yang dimungkinkan hanya oleh karya Roh Kudus yang dikaruniakan kepada orang percaya.
Hari ini kita diingatkan bahwa kehebatan diri, jabatan atau kedudukan manusia tidak akan sanggup melepaskan manusia dari belenggu dosa, bahkan jabatan keagamaan sekalipun. Kita juga diteguhkan bahwa "Hidup Kekal" adalah karunia yang dianugerahkan Allah kepada kita pada saat kita dilahirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan juru selamat lalu hidup dalam ketaatan dan kesetiaan pada firmanNya. Hal itu tercermin dari pola pikir, sikap dan tindakan kesehariannya. Bagaimana kehidupan kita saat ini, sudahkah kita mencerminkan kualitas manusia yang sudah lahir baru? Kiranya Tuhan terus menolong kita. Soli Deo Gloria.
- Pdt. Adi Cahyono -